Jumat, 06 Juli 2012

Cuplikan Perkataan Umar bin al-Khaththab r.a Dan Keadaan Beliau

Cuplikan Perkataan Umar bin al-Khaththab r.a Dan Keadaan Beliau

Umar pernah berkata, “Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.”
Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.
Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar akan segera menegurnya dan berkata, “Tutup mulutmu, tutup mulutmu!” Maka lelaki  yang berbicara kepadanya berkata, “Demi Allah sesungguhnya berita yang  aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak ingin datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.
Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya, “Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran.” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar, pent.) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia, pent.) maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.”
Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya sementara beliau adalah Khalifah-, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji atupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.
Anas berkata, “Antara dua bahu dari baju Umar, terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan. Ketika melaksanakan ibadah haji beliau hanya menggunakan 16 dinar, sementara beliau berkata kepada anaknya, “Kita terlalu boros dan berlebihan.
Beliau tidak pernah bernaung di bawah sesuatu, tetapi beliau akan meletakkan kainnya di atas pohon kemudian bernaung di bawahnya. Beliau tidak memiliki kemah ataupun tenda.
Ketika memasuki negeri Syam saat penaklukan Baitul Maqdis beliau mengendarai seekor unta yang telah tua. Kepala beliau yang botak bersinar terkena matahari. Waktu itu beliau tidak mengenakan topi ataupun sorban. Kaki beliau menjulur ke bawah kendaraan tanpa pelana. Beliau membawa satu kantong yang terbuat dari kulit yang digunakan sebagai alas untuk tidur jika beliau berhenti turun.
Ketika singgah di Baitul Maqdis beliau segera memanggil pemimpin wilayah itu dan berkata, “Panggil kemari pemimpin wilayah ini.” Orang-orang segera memanggilnya, ketika hadir Umar berkata padanya, “Tolong cucikan bajuku ini sekaligus jahitkan dan pinjami aku baju.” Maka dibawakan kepada beliau baju yang terbuat dari katun. Beliau bertanya, “Apa ini?” Dikatakan kepadanya bahwa baju ini dibuat dari katun. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa itu katun?” Mereka memberitahukan kepadanya apa itu katun. Umar segera melepas bajunya lalu mencuci kemudian menjahitnya. Setelah kering beliau mengenakannya kembali. Melihat hal tersebut pemimpin wilayah itu berkata padanya, “Engkau adalah penguasa Arab, di negeri ini tidak pantas seseorang mengendarai unta.” Maka segera dibawakan kepadanya kuda yang bagus. Umar segera melepas pelana dan pedalnya lalu menaikinya. Ketika Umar mulai mengendarainya, kuda tersebut berjalan dengan liar, beliau segera memerintahkan kepada orang yang bersamanya, “Tahan kuda ini! Aku tidak mengira jika orang-orang di sini suka mengendarai setan-setan, tolong berikan untaku kembali!” Setelah itu beliau turun dan kembali mengendarai untanya.
Diriwayatkan dari Anas ia berkata, “Aku pernah bersama Umar, kemudian beliau masuk ke kebun untuk buang hajat -sementara jarak antara diriku dan dirinya hanyalah pagar kebun- aku dengar la berkata sendiri, “Hai Umar bin al-Khaththab, engkau adalah Amirul mukminim, ya… engkau adalah Amirul mukminin! Demi Allah takutlah engkau kepada Allah Hai Ibn al-Khaththab, jika tidak Allah pasti akan mengadzabmu.”
Disebutkan bahwasanya Umar bin al-Khaththab r.a pernah membawa tempat air di atas pundaknya. Sebagian orang mengkritiknya, namun beliau berkata, “Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku ingin menghinakannya.” Pernah beliau melaksanakan Shalat Isya’ bersama kaum muslimin, setelah itu beliau segera masuk ke rumah dan masih terus mengerjakan shalat hingga fajar tiba.”
Pada waktu tahun paceklik dan kelaparan beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, beliau berkata, “Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.
Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa dibopong ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum muslimin menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya
Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Suatu ketika Umar keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi, ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, Mengapa lelaki ini (Umar) datang ke rumahmu?” Wanita itu menjawab, “Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku.” Aku berkata kepada diriku, “Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar?”
Aslam Maula Umar berkata, “Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?’ Abdurrahman berkata, ‘Ya, aku setuju!’ Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, ‘Takutlah engkau kepada Allah dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu.’ Kemudian Umar kembali ke tempatnya. Kemudian la mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi. Setelah itu Umar kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, ‘Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?’ Wanita itu menjawab, ‘Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu.’ Umar bertanya, ‘Kenapa engkau akan menyapihnya?’ Wanita itu menjawab, ‘Karena Umar hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.’ Umar bertanya kepadanya, ‘Berapa usia anakmu?’ Dia menjawab, ‘Baru beberapa bulan saja.’ Maka Umar berkata, ‘Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?’ Maka ketika shalat subuh bacaan beliau nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.
Beliau berkata, ‘Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh.’ Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.’ Umar segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.
Aslam berkata, “Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menagis. Umar bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, ‘Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedang tidak memiliki apapun.’ Umar menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi  Thalib -istrinya-, dan berkata, ‘Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah karuniakan kepadamu?’ Segera Umar memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, ‘Ya, aku akan membantunya.’ Umar segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar duduk bersama suaminya -yang tidak mengenal Umar sambil berbincang-bincang.
Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar, ‘Wahai Amirul mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki.’ Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar. Namun Umar berkata kepadanya, ‘Tidak mengapa. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang.
Aslam berkata, “Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar29 kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar berkata, ‘Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka.’ Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis, Umar bertanya, ‘Assalamu alaiki wahai pemilik api.’ Wanita itu menjawab, ‘Wa alaika as-Salam’, Umar berkata, ‘Kami boleh mendekat?’ Dia menjawab, ‘Silahkan!’ Umar segera mendekat dan bertanya, ‘Ada apa gerangan dengan kalian?’ Wanita itu menjawab, ‘Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan.’ Umar kembali bertanya, Kenapa anak-anak itu menagis?’ Wanita itu menjawab, ‘Karena lapar.’ Umar kembali bertanya, ‘Apa yang engkau masak di atas api itu?’ Dia menjawab, ‘Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar.
Maka Umar menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, ‘Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku.’ Aslam berkata, ‘Biar aku saja yang membawanya untukmu.’ Umar menjawab, ‘Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari Kiamat?’ Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wanita itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamnya. Umar berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar menurunkan periuk dari atas api dan berkata, ‘Berikan aku piring kalian!’. Setelah piring diletakkan segera umar menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, ‘Makanlah!’ Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar.
Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar berkata kepadaku, ‘Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur’ “

Wibawa Umar bin al-Khaththab r.a dan Setan yang Berusaha Menghindari Jalan yang Ditempuhnya

Wibawa Umar bin al-Khaththab r.a dan Setan yang Berusaha Menghindari Jalan yang Ditempuhnya

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari ayahnya ia berkata, “Umar bin al-Khaththab memohon agar diizinkan masuk ke rumah Rasulullah SAW ketika itu ada beberapa orang wanita dari Quraisy sedang berbincang-bincang dengan Rasulullah dan mereka berbicara dengan nada suara yang keras melebihi suara Rasululullah SAW. Ketika Umar masuk mereka segera berdiri dan menurunkan hijab. Setelah diberi izin Umar masuk ke rumah Rasulullah SAW sementara Rasulullah tertawa. Umar bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab,
“Aku heran terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku ini, ketika mereka mendengar suaramu, segera mereka berdiri menarik hijab.” Umar berkata, “Sebenarnya engkau yang lebih layak mereka segani Wahai Rasulullah. Kemudian Umar berbicara kepada mereka, “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi nafsunya sendiri, bagaimana kalian segan terhadap diriku dan tidak segan terhadap Rasulullah?” Mereka menjawab, “Ya, sebab engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Ibnul al-Khaththab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui.”

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a bahwa Rasulullah pernah bersabda,
” Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Rasulullah SAW bersabda,
“Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.”

Kuatnya Agama dan Iman Umar bin al-Khaththab r.a

Kuatnya Agama dan Iman Umar bin al-Khaththab r.a

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a dia berkata, Rasulullullah SAW bersabda,
“Ketika seseorang sedang mengembala kambingnya maka tiba-tiba datang serigala menerkam seekor kambingnya. Pengembala tersebut mengejarnya hingga berhasil mengambil kembali kambing tersebut darinya. Tiba-tiba serigala tersebut menoleh kepadanya dan berkata, “Siapa kelak yang dapat menjaganya ketika tidak ada pengembala selain diriku?” Manusia berkata, ” Subhanallah!” Nabi bersabda, “Maka sesungguhnya aku beriman dengan kejadian ini, demikian pula Abu Bakar dan Umar.”
Padahal ketika itu keduanya tidak berada di tempat tersebut.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Ketika tidur aku melihat dalam mimpi seluruh manusia diperlihatkan padaku dan masing-masing mereka mengenakan baju-baju, ada yang mengenakan baju hingga ke dadanya, ada yang mengenakannya di bawah dada, maka diperlihatkan padaku Umar sementara dia mengenakan pakaian panjang yang diseret-seretnya.” Mereka bertanya, ” Apa takwil mimpi itu wahai Rasulullah SAW” Rasulullah menjawab, ” Agamanya.” (yakni kedudukannya dalam agama).

Umar bin al-Khaththab r.a Adalah Seorang Sahabat yang Mendapat Ilham

Umar bin al-Khaththab r.a Adalah Seorang Sahabat yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW, bersabda,
” Sesungguhya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya.”
Zakaria bin Abi Zaidah menambahkah dari Sa ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, Rasululullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani lsrail ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan Nabi, jika salah seorang dari umatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya.”

Kedekatan Umar bin al-Khaththab r.a dengan Rasulullah SAW Sehingga la Selalu Mengiringi Rasulullah

Kedekatan Umar bin al-Khaththab r.a dengan Rasulullah SAW  Sehingga la Selalu Mengiringi Rasulullah

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas r.a berkata, “Umar ditidurkan di atas kasurnya, sementara manusia berada di sekelilingnya mendoakan dirinya sebelum diangkat -ketika itu aku hadir di antara mereka- aku terkejut ketika seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib r.a. Ali mengucapkan doa untuk Umar semoga dirahmati Allah, kemudian Ali berkata, “Engkau tidak pernah meninggalkan seorang yang dapat menyamai dirimu dan karya yang engkau hasilkan. Aku berharap dapat menjadi seperti dirimu ketika akan menghadap Allah. Demi Allah aku merasa yakin babwa Allah akan mengumpulkanmu dengan kedua sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar, pent.). Aku banyak mendengar Rasulullah ??? ???? ???? ???? bersabda,
” Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.”

Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah dia berkata, “Ketika Umar ditikam, ia mengerang kesakitan, maka Abdullah bin Abbas berkata sambil menghiburnya, ‘Wahai Amirul mukminin, bukankah engkau sahabat Rasulullah yang selalu mengiringinya, dan engkau telah berbuat baik dalam persahabatan dengannya. Kemudian engkau berpisah dengannya dalam keadaan la rela terhadapmu. Setelah itu engkau menjadi sahabat setia Abu Bakar hingga engkau berpisah dengannya dalam keadaan la rela terhadapmu. Kemudian engkau bergaul dengan sahabat-sahabat mereka dengan baik, maka jika engkau meninggalkan mereka, mereka akan rela terhadapmu.’
Umar berkata, ‘Adapun apa yang telah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Rasulullah dan ridhanya terhadap diriku, itu merupakan karunia Allah terhadapku, dan apa yang relah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Abu Bakar as-Shiddiq dan keridhaannya terhadapku itupun merupakan karunia Allah -Yang Mahamulia- terhadapku. Sementara yang engkau lihat tentang kekhawatiranku, itu seluruhnya disebabkan tanggung jawabku terhadapmu dan para sahabatmu. Demi Allah andai saja aku memiliki emas sepenuh dunia pasti akan aku rebus diriku dengannya dari adzab Allah ?????? ? ????? sebelum aku melihat adzab itu datang’.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam dia berkata, “Kami bersama Rasulullah ??? ???? ???? ???? ketika itu ia sedang menarik tangan Umar bin al-Khaththab.”

Luasnya Penyebaran Islam Pada Masa Umar bin al-Khaththab r.a

Luasnya Penyebaran Islam Pada Masa Umar bin al-Khaththab r.a


Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek, maka datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan terlihat dia begitu lemah menarik timba tersebut -semoga Allah mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khaththab mengambil air sebanyak-banyaknya, aku tidak pernah melihat seseorang pemimpin abqari15 yang begitu gesit hingga seluruh manusia dapat minum sepuasnya dan memberikan minum unta-unta mereka.”

Keutamaan Ilmu Umar bin al-Khaththab r.a

Keutamaan Ilmu Umar bin al-Khaththab r.a


Diriwayatkan dari az-Zuhri dia berkata, Aku diberitahukan oleh Hamzah dari bapaknya bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Ketika aku tidur maka aku bermimpi meminum -yaitu susu- hingga aku melihat bekas-bekas susu tersebut melekat pada kuku-kukuku kemudian aku berikan kepada Umar.” Mereka bertanya, ” Apa takwilnya wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah SAW menjawab, “Ilmu”.

Umar bin al-Khaththab r.a Adalah Penduduk Surga

Umar bin al-Khaththab r.a Adalah Penduduk Surga

1. Diriwayatkan dari Said Ibnu al-Musayyab bahwa Abu Hurairah r.a berkata, Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau berkata,
“Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita berwudhu di samping sebuah istana, maka aku bertanya, ” Milik siapa istana ini?” Mereka menjawab, ” Milik Umar.” Maka aku teringat akan kecemburuan Umar, segera aku menjauhi istana itu.” Umar menangis dan berkata, “Demi Allah, mana mungkin aku akan cemburu padamu wahai Rasulullah?”
2. Diriwayatkan Anas bin Malik r.a ia berkata, Rasulullah SAW menaiki gunung Uhud beserta Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka-tiba-tiba gunung itu bergoncang, segera Rasulullah memukulkan kakinya dan berkata,
“Diamlah wahai Uhud sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, shiddiq dan dua orang syahid“.
3. Diriwayatkan dari Anas r.a bahwa seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hari kiamat. Ia bertanya,
“Kapan datangnya hari Kiamat?” Maka Rasulullah SAW kembali bertanya padanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?” Ia menjawab, “Aku tidak memiliki persiapan apapun, hanya saja aku mencintai Allah dan RasulNya.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Engkau kelak akan dibangkitkan beserta orang-orang yang kau cintai.” Anas berkata, “Tidaklah kami merasa senang kecuali setelah mendengar sabda Nabi, “Engkau kelak akan dibangkitkan beserta orang-orang yang engkau cintai.” Anas berkata, “Aku mencintai Rasulullah SAW, Abu Bakar serta Umar. Aku berharap agar dapat dikumpulkan beserta mereka, walaupun aku tidak mampu beramal seperti mereka.
4. Diriwayatkan Abu Musa r.a ia berkata, “Aku bersama Rasulullah SAW  di salah satu kebun di kota Madinah. Tiba-tiba datang seorang lelaki minta dibukakan pintu, maka Rasulullah berkata,
” Bukakan pintu untuk orang itu dan beritakan baginya kabar gembira berupa surga”. Maka aku buka pintu dan ternyata orang itu adalah Abu Bakar. Segera aku beritahukan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah SAW untuknya. Abu Bakar mengucapkan pujian kepada Allah. Tak lama setelah itu datang seseorang minta diberi izin masuk, maka Rasulullah SAW berkata, “Bukalah pintu dan beritakan baginya berita gembira berupa surga.” Aku segera membuka pintu dan ternyata orang itu adalah Umar, maka aku beritahukan kepadanya apa yang dikatakan Nabi untuknya. la juga mengucapkan pujian kepada Allah. Kemudian datang lagi seseorang ingin masuk, maka Rasulullah SAW berkata padaku, “Bukakan pintu untuknya dan beritakan kabar gembira kepadanya berupa surga dan berita musibah yang kelak akan menimpanya.” Ketika aku membuka pintu ternyata orang tersebut adalah Utsman, maka aku segera memberitakan kabar gembira untuknya dan berita musibah yang kelak akan menimpanya, maka dia memuji Allah dan berkata, “Allah al-Musta’aan (hanya kepada Allah aku memohon pertolongan).”

Qadhi, Sekretaris dan Pemungut Zakat di Masa Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a

Qadhi, Sekretaris dan Pemungut Zakat di Masa Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a

Sebelum Abu Bakar ash-Shiddiq r.a diangkat sebagai khalifah, profesi beliau dalam mencari nafkah adalah seorang pedagang, setelah dilantik sebagai khalifah maka sebagaimana biasanya beliau berangkat ke pasar untuk berdagang, dijalan beliau bertemu dengan umar bin al-Khaththab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, keduanya menghampirinya dan berkata, “Profesimu sebagai pedagang kini sudah tidak sesuai lagi sejak engkau mengemban amanat yang amat besar ini.” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, “Jika tidak dengan berdagang seperti ini bagaimana aku dapat menghidupi anak istriku?” Keduanya menjawab, “Mari ikut kami agar kami siapkan untukmu gaji.”
Maka sejak itu Abu Bakar diberi upah setengah kambing dan dijamin baginya pakaian beserta sandang pangan, Umar berkata, Biarlah aku yang mengurusi masalah qadha (peradilan), selanjutnya Abu Ubaidah berkata, “Serahkan kepadaku urusan pajak.” Umar berkata, “Sejak aku menjabat sebagai Qadhi di peradilan, selama sebulan penuh aku duduk menganggur tidak satupun terjadi persengketaan antara dua orang.”
Dan yang menjadi sekretaris dan juru tulisnya adalah Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan atau siapa yang hadir ketika itu di sisinya.
Adapun gubernur untuk wilayah Makkah adalah Itab bin Sa’id, untuk wilayah Tha’if adalah Utsman bin Abi al-Ash, untuk wilayah adalah Shan’a Muhajir bin Abi Umayyah, untuk wilayah Hadramaut adalah Ziyad bin Lubaid, untuk wilayah Khaulan adalah Ya’la bin Umayyah, untuk wilayah Zubeid dan Rima’ adalah Abu Musa al-Asy’ari, untuk wilayah al-Janad adalah Mu’adz bin Jabal, untuk wilayah Bahrain adalah al-Ala’ bin al-Hadrami.
Beliau juga mengutus Jabir bin Abdillah al-Bajalli ke Najran, Abdullah bin Tsaur -salah seorang dari Bani al-Ghauts- diutus ke daerah Jurasy,  kemudian belian mengutus Iyadh bin Ghanm al-Fahri ke Daumatul Jandal, wilayah Syam diserahkan kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Syarahbil bin Hasanah, Yazid bin Abu Sufyan, Amru bin al-Ash, seluruhnya adalah pemimipin pasukan di bawah satu komandan yaitu Khalid bin Walid.
Ketika itu Abu Bakar belum mendirikan baitul mal secara independen, melainkan hanyalah mengambil sebuah kamar kecil di rumahnya yang berada di sanuh, ketika salah seorang sahabat berkata padanya, “Tidakkah engkau memerlukan penjaga Baitul mal tersebut?” Dia menjawab, “Tidak, sebab kamar tersebut memiliki gembok yang terkunci. Namun ketika beliau pindah ke rumahnya yang di samping masjid Nabawi maka beliau harus memindahkan baitul mal tersebut ke sana. Ketika Abu Bakar wafat, maka  Umar membuat para penjaga baitul mal secara khusus, ketika baitul mal dibuka tenyata mereka tidak menemukan apapun.

Sepak Terjang Abu Bakar ash-Shiddiq r.a dalam Membela Rasulullah SAW

Sepak Terjang Abu Bakar ash-Shiddiq r.a dalam Membela Rasulullah SAW

Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amruradhiyallahu ‘anhu tentang perbuatan kaum musyrikin yang paling menyakitkan Rasulullah SAW, maka dia berkata, “Aku pernah melihat Uqbah bin Abi Mu’ith mendatangi Rasulullah SAW yang sedang shalat, maka tiba-tiba Uqbah melilit leher Nabi dengan sorban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar membelanya dan melepaskan ikatan tersebut sambil berkata,
” Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu.” (Ghafir: 28).
Jasa-Jasa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu
Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat yang pertama kali masuk Islam, dan selalu menyertai Rasulullah SAW sepanjang hidupnya baik di Makkah maupun di Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah SAW sekaligus teman bermusyawarah dan wazirnya. Di tangannya para senior sahabat masuk memeluk Islam seperti Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Setia mendampingi Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan, siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau pula yang telah membebaskan banyak budak-budak yang disiksa karena masuk Islam seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy. Zinnirah, Nahdiyyah dan kedua putrinya, serta budak wanita milik Bani Muammal.
Beliaulah yang menemani Rasulullah SAW dikala hijrah, dan turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah SAW, seperti Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah, Penaklukan kota Makkah, Hunain, Tabuk dan pertempuran besar lainnya.
Setelah menjabat sebagai khalifah maka beliaulah yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh negeri Islam dan wilayah kekhalifahan-nya sepeninggal Rasulullah SAW, maka tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang di antaranya,
1- Instruksinya agar jenazah Rasulullah SAW diurus hingga dikebumikan.
2- Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah radhiyallahu ‘anhu yang sebelumnya telah dipersiapkan Rasulullah SAW sebelum wafat, sebagaimana kelak akan diterangkan secara rinci.
3- Kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapan ke arah itu, kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.
4- Ibnu Katsir berkata, “Pada tahun 12 H Abu Bakar ash-Shiddiq memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengkumpulkan al-Qur’an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari’ penghafal al-Qur’an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari. Imam al-Bukhari berkata, Bab Pengumpulan al-Qur’an kemudian dia mulai menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as-Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, “Abu Bakar ash-Shiddiq mengirim kepadaku surat tentang orang-orang yang terbunuh di perang Yamamah, ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin al-Khaththab berada di sampingnya, maka Abu Bakar berkata, “Umar mendatangiku dan berkata, “Sesungguhnya banyak para Qurra’ penghafal al-Qur’an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari’ yang masih  hidup kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat al-Qur’an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an.”
Aku bertanya kepada Umar, “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW” Umar menjawab, “Demi Allah, ini adalah kebaikan!” Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akhirnya akupun setuju dengan pendapat Umar radhiyallahu ‘anhu.
Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kemudian Abu Bakar berkata padaku, “Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah SAW, maka carilah seluruh ayat al-Qur’an yang berserakan dan kumpulkanlah.” Berkata Zaid, Demi Allah jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung tentulah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan al-Qur’an.”
Aku bertanya, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu perbuatan yang tidak diperbuat oleh Rasulullah SAW Dia berkata, “Demi Allah ini adalah suatu kebaikan!” Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terus berusaha meyakinkan aku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada mereka berdua.
Maka aku mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an yang ditulis di daun-daunan, kulit maupun dari hafalan para penghafal al-Qur’an, hingga akhirnya aku menemukan akhir surat at-Taubah yang ada pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak kudapatkan dari selainnya, yaitu ayat;
” Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu.” (At-Taubah: 128).
Hingga akhir surat al-Bara’ah. Kemudian al-Qur’an yang telah dikumpulkan dan dibukukan itu disimpan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu hingga Allah mewafatkannya. Setelah itu berpindah ke tangan Umar radhiyallahu ‘anhu sewaktu hidup-nya, dan akhirnya berpindah ke tangan Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anha.
Imam al-Bukhari berkata, Ibnu Syihab berkata, Telah berkata kepadaku Kharijah bin Zaid bin Tsabit, bahwasanya dia mendengar Zaid berkata, “Aku tidak mendapatkan satu ayat dari surat al-Ahzab ketika kami menulis al-Qur’an ke dalam satu mushaf, sementara aku pernah mendengarkan Rasulullah SAW membacanya, akhirnya ayat tersebut kami cari dan ternyata ayat tersebut ada pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari,
” Di antara orang-orang mu’ min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.” (Al-Ahzab: 23).
Maka segera kami sisipkan ke tempatnya di dalam mushaf.
5- Pengiriman pasukan untuk menyebarkan Agama Allah kepada bangsa-bangsa yang bertetangga dengan kaum muslimin baik kepada penduduk Persia maupun penduduk Syam, dalam rangka merealisasikan firman Allah  SWT
” Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (At-Taubah: 123).

Berita Gembira Untuk Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Sebagai Penghuni Surga

Berita Gembira Untuk Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Sebagai Penghuni Surga


Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab dia berkata, “Telah berkata kepadaku Abu Musa al-Asy’ari bahwa suatu hari dia berwudhu’ di rumahnya kemudian berangkat keluar dan berkata, “Aku harus mengiringi Rasulullah SAW  hari ini.” Beliau berangkat ke masjid dan bertanya di mana Rasulullah SAW, maka dijawab bahwa beliau keluar untuk suatu hajat, maka aku segera pergi berusaha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat sebuah sumur bernama Aris, maka aku duduk di pintu -dan ketika itu pintunya terbuat dari pelepah kurma hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan setelah itu berwudhu, maka akupun berdiri berjalan he arahnya ternyata beliau sedang duduk-duduk di atas  sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang memberi salam kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam hatiku, “Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah SAW. Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan, “Siapa itu?” Dia menjawab, “Abu Bakar!” Maka kukatakan padanya, “Tunggu sebentar!” Aku segera datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya padanya, “Wahai Rasulullah, ada Abu Bakar datang dan minta izin masuk!” Rasulullah SAW berkata, “Suruhlah dia masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga.” Maka aku berangkat menujunya dan berkata, “Masuklah sesungguhnya Rasulullah memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah penghuni surga. Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah SAW sambil menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan dia menyingkap kedua betisnya……hingga akhir kisah.”
Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia pernah bercerita bahwa Nabi pernah menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka tiba-tiba gunung Uhud bergoncang dan Rasulullah SAW langsung berkata,
“Diamlah wahai Uhud sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq dan dua syahid.”

Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a dan Keluarganya

Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a dan Keluarganya

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha  dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan, ketika kami sampai di suatu tempat yang bernama al-Baida -atau di Dzatul Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka Rasulullah SAW menyuruh rombongan berhenti untuk mencarinya dan orang-orang pun berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak mendapati air dan tidak mempunyai air, maka orang-orang mendatangi Abu Bakar dan berkata, ‘Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh ‘Aisyah? Dia telah membuat Rasulullah SAW berhenti dan manusia pun berhenti bersamanya, sementara mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya. Maka datanglah Abu Bakar ketika Rasulullah SAW  berbaring meletakkan kepala-nya di atas pahaku sedang tertidur, Abu Bakar mendatangiku dan berkata, ‘Engkau telah menahan Rasulullah SAW dan manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula mendapatkannya’.” ‘Aisyah berkata, “Maka ayahku mencelaku habis-habisan sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangannya, tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah SAW terganggu tidurnya, sementara Rasululullah SAW masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka tidak memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai tayammum,
“ Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).”( An-Nisa’: 43).
Usa’id bin Hudhairradhiyallahu ‘anhu berkata, “Bukanlah ini awal dari keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar.” Maka ‘Aisyah berkata, “Kemudian kami membangkitkan kendaraan tungganganku dan ternyata kalung tersebut berada di bawahnya.”

Kemauan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a yang Tinggi

Kemauan Abu Bakar ash-Shiddiq  r.a yang Tinggi

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa menginfakkan sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah niscaya akan diseru dari pintu-pintu surga, “Wahai Hamba Allah inilah kebaikan. Maka barangsiapa termasuk ahli shalat maka akan dipanggil dari pintu shalat, barang siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil dari pintu jihad, dan barang siapa yang suka bersedekah maka akan dipanggil dari pintu sedekah, barang siapa yang suka berpuasa maka akan dipanggil dari pintu puasa dan dari pintu Ar Rayyan. Maka Abu Bakar berkata, ‘Bagaimana jika seseorang harus dipanggil dari setiap pintu, dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap pintu wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, dan aku berharap agar engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari mereka”

Iman dan Keyakinan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a yang Kuat

Iman dan Keyakinan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a yang Kuat


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkata,
” Ketika seorang pengembala sedang menggembala kambingnya, tiba-tiba datang seekor serigala memangsa seekor kambingnya, maka spontan pengembala tersebut mengejarnya, tiba-tiba serigala itu berpaling menoleh kepadanya dan berkata,   “Siapa yang dapat menjaganya pada waktu dia akan dimangsa, yaitu hari tatkala tidak ada pengembala selain diriku?” Dan ketika seorang sedang menggiring sapinya yang membawa beban, maka seketika sapi itu menoleh padanya dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk tugas ini, tetapi aku diciptakan Allah untuk membajak.” Orang-orang berkata, Subhanallah!’ Maka Nabi bersabda, “ Sesungguhnya aku beriman kepada berita itu sebagaimana Abu Bakar dan Umar mengimaninya pula”.
Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,
” Barangsiapa menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”
Maka Abu bakar berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi dari bajuku selalu melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkannya, maka Rasulullah SAW bersabda,
” Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan.”

Kedudukan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a di Sisi Rasulullah SAW

Kedudukan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a di Sisi Rasulullah SAW


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah SAW beliau bersabda,
“Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilih Abu Bakar sebagai khalil namun dia adalah saudaraku dan sahabatku.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Malikah ia berkata, “Penduduk Kufah bertanya kepada Abdullah bin az-Zubair perihal bagian warisan yang akan diperoleh seorang kakek, maka dia berkata, “Ikutilah pendapat Abu Bakar. Bukankah Rasulullah pernah menyebutkan perihal dirinya, “Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilihnya.” Abu Bakar mengatakan, “Samakan pembagian kakek dengan bagian bapak (Jika bapak tidak ada).”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad SAW,
“Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”
Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya dia berkata, “Pernah seorang wanita mendatangi Rasulullah SAW, kemudian beliau menyuruhnya kembali datang menghadapnya, maka wanita itu bertanya, “Bagaimana jika kelak aku datang namun tidak lagi menjumpaimu -seolah-olah ia meng-isyaratkan setelah rasul wafat- maka Rasulullah SAW berkata,
” Jika engkau tidak menjumpaiku maka datangilah Abu Bakar.”
Diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah SAW tiba-tiba muncullah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya, maka Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya teman kalian ini sedang kesal maka berilah salam atasnya.” Maka Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnu al-Khaththab terjadi perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan menerima permohonanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang” Rasulullah SAW   menjawab, “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar.” Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak, Umar segera mendatangi Rasulullah SAW sementara wajah Rasulullah SAW terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah -dua kali-,” Maka Rasulullah SAW berkata,
” Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun kalian mengatakan, ” Engkau pendusta!” Sementara Abu Bakar berkata, ” Engkau benar!” Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?”
Setelah itu Abu Bakar tidak pernah lagi di sakiti.”

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Adalah Sahabat Yang Paling Utama

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Adalah Sahabat yang Paling Utama
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Kami selalu membanding-bandingkan para sahabat di masa Rasulullah SAW maka kami sepakat memilih Abu bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah dia berkata, “Kutanyakan pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah SAW” Maka beliau menjawab, “Abu Bakar!” Kemudian kutanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau menjawab, “Umar.” Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, “Setelah itu pasti anda. Namun beliau menjawab, “Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin”.

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan manusia dan berkata,
“Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di sisi Allah.”
Abu Sa’id berkata, “Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau menangis padahal Rasulullah SAW hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah SAW sendiri, dan Abu Bakar lah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah SAWbersabda,
“Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja.”
Diriwayatkan  dari  ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha  istri Rasulullah SAW,  ia berkata, “Ketika       Rasulullah SAW wafat Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama Sunuh- Ismail yaitu sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato, “Demi Allah sesungguhnya Rasulullah SAW tidak meninggal. ‘Aisyah melanjutkan, Kemudian Umar berkata, “Demi Allah tidak terdapat dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akan membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangan mereka (yang mengatakan beliau telah mati, pent.). Kemudian datanglah Abu Bakar menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah SAW serta menciumnya sambil berkata, Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku, alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi Allah yang diriku berada di tanganNya mustahil Allah akan menimpakan padamu dua kali kematian selama-lamanya.”
Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, “Wahai orang yang telah bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!” Ketika Abu Bakar mulai berbicara maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata, “Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad SAW maka beliau sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah akan tetap hidup tidak pernah mati. Kemudian beliau membacakan ayat,
” Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Az-Zumar: 30).
Dan ayat,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telahberlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” ( Ali-Imran: 144).
Ismail berkata, “Maka manusia mulai menangis terisak-isak, kemudian kaum Anshar segera berkumpul bersama Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa’idah dan mereka berpendapat, “Dari kami seorang amir (pemimpin) dan dari kalian (muhajirin) juga seorang amir.” Maka segera Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi majlis mereka, Umar berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya untuk diam, Umar berkata, “Demi Allah sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar.”
Kemudian Abu Bakar bepidato dan perkataannya sungguh mengena, beliau berkata, “Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir.” Maka Hubab bin Munzir berkata, “Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula.” Abu Bakar menjawab, “Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia kedudukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka silahkan kalian membai’at Umar ataupun Abu Ubaidah.” Maka spontan Umar menjawab, “Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami bai’at engkaulah pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW daripada kami.” Maka Umar segera meraih tangan Abu Bakar dan membai’atnya akhirnya orang-orangpun turut membaiatnya pula.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Pandangan Nabi menengadah ke atas dan berkata, “Tetapi Yang kupilih adalah Ar-Rafiqul A’la (kekasih Allah Yang Mahatinggi) 3X. ‘Aisyah melanjutkan, “Tidaklah perkataan mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah jadikan bermanfaat untuk manusia, profile Umar yang tegas berhasil membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum muslimin sangat takut padanya, dengan kepribadiannya Allah menolak kemunafikan. Adapun Abu Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga mendapatkan petunjuk kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu Bakar berhasil mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya Rasulullah setelah membacakan ayat,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” ( Ali Imran :144).

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Adalah Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Gua Dan Ketika Hijrah

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Adalah Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Gua Dan Ketika Hijrah

Allah berfirman,
“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”.” ( At-T aubah: 40).
Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, “Abu Bakarlah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.
Diriwayatkan dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu Bakar berkata kepada ‘Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan tersebut.” Maka ‘Azib berkata, “Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah ketika keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian.”
Abu Bakar berkata, “Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kukatakan padanya, “Istirahatlah wahai Nabi Allah.” Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengintai. Tiba-tiba aku melihat ada seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya, “Siapa tuannmu wahai budak?” Dia menjawab, “Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy.” Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudian kutanyakan, “Apakah kambingmu memiliki susu?” Dia menjawab, “Ya!” lantas kukatakan, “Maukah engkau memeras untuk kami?” Dia menjawab, “Ya!” Maka dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar membersihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya dari debu, maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, “Minumlah wahai Rasulullah.” Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya, “Bukankah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya!” Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullullah, “Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah, namun beliau menjawab,
” Jangan khawatir, sesungguhnya Allah beserta kita.”
Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Kukatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kami berada dalam gua, ‘Andai saja mereka (orang-orang Musyrik) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat’. Rasul menjawab,
” Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga.”