Abu Bakar ash-Shiddiq r.a Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan manusia dan berkata,
“Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih
antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di
sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di sisi
Allah.”
Abu Sa’id berkata, “Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau
menangis padahal Rasulullah SAW hanyalah
menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui
bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah SAW sendiri, dan Abu Bakar lah yang paling mengerti serta berilmu di
antara kami. Kemudian Rasulullah SAWbersabda,
“Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam
persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai
saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain
Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan
se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil
di masjid selain pintu Abu Bakar saja.”
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Rasulullah SAW, ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW wafat
Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama Sunuh- Ismail yaitu sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato, “Demi
Allah sesungguhnya Rasulullah SAW tidak meninggal.
‘Aisyah melanjutkan, Kemudian Umar berkata, “Demi Allah tidak terdapat
dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti
akan membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangan mereka (yang
mengatakan beliau telah mati, pent.). Kemudian datanglah Abu Bakar
menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah SAW serta
menciumnya sambil berkata, Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku,
alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi
Allah yang diriku berada di tanganNya mustahil Allah akan menimpakan
padamu dua kali kematian selama-lamanya.”
Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, “Wahai orang yang telah
bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!” Ketika Abu Bakar mulai
berbicara maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata,
“Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad SAW maka beliau sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah
Allah maka sesungguhnya Allah akan tetap hidup tidak pernah mati.
Kemudian beliau membacakan ayat,
” Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Az-Zumar: 30).
Dan ayat,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh
telahberlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.” ( Ali-Imran: 144).
Ismail berkata, “Maka manusia mulai menangis terisak-isak, kemudian
kaum Anshar segera berkumpul bersama Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani
Sa’idah dan mereka berpendapat, “Dari kami seorang amir (pemimpin) dan
dari kalian (muhajirin) juga seorang amir.” Maka segera Abu Bakar, Umar
bin al-Khaththab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi
majlis mereka, Umar berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya untuk diam,
Umar berkata, “Demi Allah sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan
aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat baik yang
kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar.”
Kemudian Abu Bakar bepidato dan perkataannya sungguh mengena, beliau
berkata, “Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir.” Maka Hubab
bin Munzir berkata, “Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi
dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula.” Abu Bakar
menjawab, “Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian
menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia
kedudukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka
silahkan kalian membai’at Umar ataupun Abu Ubaidah.” Maka spontan Umar
menjawab, “Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami bai’at engkaulah
pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang
paling dicintai oleh Rasulullah SAW daripada kami.” Maka
Umar segera meraih tangan Abu Bakar dan membai’atnya akhirnya
orang-orangpun turut membaiatnya pula.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Pandangan
Nabi menengadah ke atas dan berkata, “Tetapi Yang kupilih adalah
Ar-Rafiqul A’la (kekasih Allah Yang Mahatinggi) 3X. ‘Aisyah melanjutkan,
“Tidaklah perkataan mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah
jadikan bermanfaat untuk manusia, profile Umar yang tegas berhasil
membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum muslimin sangat takut
padanya, dengan kepribadiannya Allah menolak kemunafikan. Adapun Abu
Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga mendapatkan petunjuk
kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu Bakar berhasil
mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya
Rasulullah setelah membacakan ayat,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.” ( Ali Imran :144).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar